Cara Mencegah Gigi Rapuh dan Keropos

Kita semua harus mengetahui bahwa betapa pentingnya menjaga kesehatan gigi. Selain untuk mengunyah makanan, gigi juga membuat penampilan seseorang menjadi lebih baik, menambah kepercayaan diri dalam pergaulan keseharian dengan orang lain. Untuk menjaga semua itu, kita harus senantiasa menjaga kesehatan gigi agar  gigi kita tidak rapuh dan keropos.

Gigi yang rapuh dan keropos selalu dikaitkan dengan keadaan gigi yang mudah berlubang (karies). Proses terjadinya karies adalah akibat adanya ketidakseimbangan proses pelepasan mineral dari gigi dengan pengembalian mineral ke dalam gigi.

Gigi yang keropos dapat disebabkan karena berbagai penyebab, salah satunya adalah karies gigi terutama pada orang dengan kebersihan gigi dan mulut yang kurang terjaga. Karies gigi diawali oleh penumpukan plak yang tidak dibersihkan dengan baik, dan dipengaruhi juga oleh pola makan. Bakteri yang terdapat pada rongga mulut akan mengubah sisa makanan yang tersisa menjadi asam, yang akan melunakkan gigi. Lama kelamaan gigi akan keropos hingga terjadi lubang, dan patah sedikit demi sedikit.

Loading...

Gigi yang keropos juga dapat disebabkan karena adanya gangguan tumbuh kembang gigi di masa kanak-kakak, yaitu saat terjadinya proses peletakan mineral-mineral yang penting dan menjadi penyusun utama struktur gigi, seperti misalnya kalsium. Gangguan tumbuh kembang ini bisa terjadi karena kekurangan nutrisi, atau anak menderita penyakit yang cukup berat saat proses tersebut sedang terjadi. Akibatnya, struktur gigi menjadi kurang kuat dan lebih rentan terhadap kerusakan.

Karies gigi terjadi akibat adanya ketidsakseimbangan proses pelepasan mineral (deminerlisasi) dari gigi dengan pengembalian mineral dalam gigi. Adanya hubungan sebab-akibat terjadinya karies, diidentifikasi sebagai faktor resiko karies.

Beberapa faktor yang dianggap sebagai faktor penyebab karies yaitu :

1.    Pengalaman karies.

Penelitian epidemiologis telah membuktikan adanya hubungan antara pengalaman karies dengan perkembangan karies di masa mendatang. Sensitivitas parameter ini hampir mencapai 60%.

2.    Penggunaan fluor.

Pemberian fluor yang teratur baik secara sistemik (konsumsi langsung) maupun lokal (misalnya pasta gigi, gel, dan obat kumur) merupakan hal yang penting diperhatikan dalam mengurangi terjadinya karies karena dapat meningkatkan remineralisasi. Namun demikian, jumlah kandungan fluor dalam air minum dan makanan harus diperhitungkan, karena pemasukan fluor yang berlebihan dapat menyebabkan fluorosis (gigi dengan bercak putih).

3.    Kebersihan mulut.

Insidensi karies dapat dikurangi dengan melakukan penyingkiran plak secara mekanis dari permukaan gigi, namun banyak pasien tidak melakukannya secara efektif. Peningkatan kebersihan mulut dapat dilakukan dengan menggunakan benang gigi, yang dikombinasi dengan pemeriksaan gigi secara teratur. Pemeriksaan gigi rutin ini dapat membantu mendeteksi dan memonitor masalah gigi yang berpotensi menjadi karies.

4.    Jumlah bakteri.

Segera setelah lahir akan terbentuk ekosistem rongga mulut yang terdiri atas berbagai jenis bakteri. Kolonisasi bakteri di dalam mulut disebabkan transmisi antar manusia, yang paling banyak dari ibu atau ayah.

5.    Air liur.

Selain mempunyai efek penetral asam, air liur juga berguna untuk membersihkan sisa-sisa makanan di dalam mulut. Pada individu yang berkurang fungsi salivanya, maka aktivitas karies akan meningkat secara signifikan.

6.    Pola makan.

Pengaruh pola makan dalam proses karies biasanya lebih bersifat lokal daripada sistemik, terutama dalam hal frekuensi mengonsumsi makanan. Setiap kali seseorang mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat, maka beberapa bakteri penyebab karies di rongga mulut akan mulai memproduksi asam sehingga terjadi pelepasan mineral dari gigi yang berlangsung selama 20-30 menit setelah makan.

Oleh karena itu, untuk mengatasi atau mencegah terjadinya gigi rapuh dan keropos anda bisa melakukan hal-hal sebagai berikut :

1.   Sikat gigi teratur

Sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride saatpagi dan malam hari sebelum tidur. Untuk pembersih tambahan bisa digunakan dental floss (benang gigi). Sikat gigi sebelum tidur dapat mengurangi risiko gigi keropos.

2.   Pemberian fluoride

Fluoride dalam pasta gigi terkadang tidak mencukupi kebutuhan fluoride bagi rongga mulut. Karena itu, perlu asupan tambahan fluoride yang bisa diperoleh dari gel, obat kumur, larutan, dan varnish. Anda bisa mengkonsultasikan hal ini pada dokter gigi.

3.   Modifikasi pola makan

Pengaturan frekuensi makan, dapat mempengaruhi proses terjadinya karies. Makanan yang mengandung karbohidrat (misalnya keripik kentang, camilan manis) dan asam (misalnya minuman berenergi dan jus buah) memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat bersih dari mulut, sehingga selama waktu tersebut pecahan karbohidrat dapat dihidrolisis menjadi gula sederhana, yang akan memberikan sumber makanan bagi  bakteri asidogenik di dalam mulut.

4.   Melakukan penambalan pada gigi yang sudah berlubang

Bahan tambal yang dipakai untuk menambal gigi berlubang bisa berbeda-beda untuk setiap kasus. Sebaiknya konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu.