Halitosis kronis Terinfeksi Celah-Celah Tonsil

Bau Mulut Karena Terinfeksi Celah-Celah TonsilHalitosis adalah bau napas tak sedap yang berasal dari dalam mulut. Bau ini disebabkan oleh faktor luar maupun dalam. Faktor luar itu antara lain adanya sisa makanan di dalam mulut. Sedangkan faktor dari dalam yang menyebabkan halitosis dapat berupa karies gigi, radang kronis pada saluran pernapasan, dan gangguan pencernaan. Celah-celah tonsil yang terinfeksi dapat terisi oleh sisa-sisa makanan dan lendir hingga menyebarkan bau tak sedap alias “bau naga”.

Halitosis kronis adalah suatu keadaan di mana seseorang mengeluarkan bau menyengat yang berasal dari mulut yang tidak dapat dihilangkan melalui teknik oral hygiene normal seperti sikat gigi dan flossing (menggunakan dental floss).

Bau mulut bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu gejala yang harus diketahui penyebabnya. Beruntung kalau si penderita sadar adanya hawa tidak sedap dari mulutnya dan segera mengunjungi dokter gigi untuk mengatasinya. Jika tidak, bau mulut tersebut akan menimbulkan pengaruh negatif dalam bisnis, pergaulan, bahkan kehidupan perkawinan.
Halitosis dapat terjadi pada semua golongan umur, ras maupun tingkat sosial ekonomi.

Loading...

Halitosis merupakan suatu masaalah yang bagi sebagian orang sangat memalukan dan dapat membuat penderitanya kehilangan semangat serta menghindari pergaulan. Selain itu, banyak pula penderita halitosis yang tidak menyadari bahwa dirinya menderita halitosis sampai ada seseorang yang memberitahu mereka.

Secara umum halitosis disebabkan oleh

A.   Keadaan gigi geligi dan rongga mulut :

  • Gigi berlobang.
  • Penyakit didaerah gusi.
  • Infeksi di dalam rongga mulut.
  • Kanker mulut.
  • Berkurangnya air ludah di dalam mulut. (Xerostomia ). Xerostomia dapat  disebabkan oleh   pemakaian obat-obatan tertentu dan faktor usia.
  • Kondisi rongga mulut yang disebabkan oleh post-nasal drips/discharges.
  • Kondisi alergi.
  • Perkembang-biakan bakteri anaerob gram (-) di dalam mulut

B.   Keadaan kesehatan umum :

  • Infeksi sinus, anatomi sinus yang tidak normal, polyp serta post-nasal drainage (drips).
  • Infeksi didaerah tonsil.
  • Penyakit paru.
  • Penyakit ginjal.
  • Penyakit hati.
  • Kelainan darah.
  • Diabetes.
  • Gallbladder dysfunction.
  • Menstruasi.
  • Karsinoma.
  • Makanan-makanan tertentu.

Cara Mencegah Bau Mulut.

  1. Pastikan kesehatan dan kebersihan gigi serta mulut dengan menggosok gigi dua kali sehari, pada pagi dan malam hari sebelum tidur. Jika perlu, berkumurlah dengan cairan antiseptik untuk memastikan bakteri anaerob tak berkembang biak selama Anda beristirahat.
  2. Jangan lupa menyikat lidah, permukaan lidah yang tidak rata memungkinkan adanya sisa makanan tersangkut di sana. Usahakan sesering mungkin minum air putih. Hindari minum kopi karena akan memperparah keadaan. Ada baiknya pula untuk mempertimbangkan menghentikan kebiasaan merokok, karena bau racun rokok akan senantiasa menetap.
  3. Mengunyah permen karet bebas gula bisa membantu merangsang produksi saliva (air liur), terutama bagi mereka yang memiliki saliva yang kental.
  4. Kunjungi dokter gigi. Mungkin ada gigi yang berlubang, ada karang gigi, atau masalah kesehatan mulut dan gigi Anda.

Terapi halitosis dimulai dengan melakukan :

  • Anamnesa yang baik.
  • Pemeriksaan menyeluruh terhadap keadaan gigi geligi serta rongga mulut.
  • Pemeriksaan x-ray (bila diperlukan).
  • Menggunakan  halimeter dan periotempt untuk mencari penyebab dan tingkat parahnya halitosis, serta mengidentifikasi gas-gas yang dihasilkan oleh pernafasan.
  • Bila diperlukan, juga dilakukan analisa terhadap saliva.

Perawatan halitosis terdiri dari :

  • Mengatasi infeksi kronis di dalam mulut yang dapat menyebabkan halitosis.
  • Menginstruksikan pasien cara-cara melakukan perawatan gigi dan mulutnya di rumah.
  • Memberikan obat bila diperlukan.
  • Menghilangkan berbagai kegiatan atau kebiasaan dari pasien yang dapat menyebabkan halitosis

Selain itu, kepada penderita halitosis juga dianjurkan untuk secara periodik melakukan pemeriksaan gigi ke dokter gigi.
Bila perawatan terhadap halitosis sudah dilakukan tetapi halitosis kronis tetap terjadi, pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan umumnya.